Monday, December 8, 2014

Episode 5 : Minggu, 12 Oktober 2014. Hari Terakhir VOC

Kejadian tadi malam benar-benar menguras emosi. Pada pagi itu.....terbangun dari sekejap lelap, terasa acak-acakan....kacau.

Telat untuk canoeing? Lagi. Sudah pasti.

Setelah siap-siap singkat, waktunya sarapan.....ketemu Charlotte di ruang makan, begitu ramah, begitu baik, begitu membanggakan counterpartnya....semakin merasa bersalah. Mau nangis.......

Selesai sarapan, Emily mengajak bicara bertiga dengan Charlotte, kami berjalan sebentar ke lapangan, dan......kata-kata itu mengalir begitu saja darinya, permintaan switching....dan disetujui. Hatinya begitu besar, bahkan sampai sekarang, ketik menulis ini, masih sulit menahan diri membayangkan bagaimana skenario yang terjadi kalau saja kami tidak switching....

Saat masuk kelas pun tiba. Semua sudah berkumpul, tapi....kak Rihaf hilang! Kami bertiga mencari-cari.....hingga akhirnya bertemu, ternyata ia mengalami diare. Ah, jangan-jangan psikosomasis, stres gara-gara kami :(((

Iya. Saya merasa jahat sekali pada saat itu. Merasa egois. Bahkan Lyanda juga ikut mengakui hal itu, ikut marah atas keputusan yang kami buat. Tapi.....terlanjur sudah...ah...

Hingga kelas mulai lagi, kami dipertemukan oleh salah seorang utusan dari Canada World Youth, Tammy. Ia menjelaskan banyak hal, menyampaikan banyak pesan, dan...memberi kami kenang-kenangan. Gantungan yang bergambar totem, yang setiap totem ada sejarahnya, ada pesan dalam menjalani program ini nantinya....totem punya saya adalah wolf bertuliskan caring karya Phil Gray yang merupakan seorang Tsimshian.

Hostfamily juga diumumkan pada hari itu

Setelah itu ada juga tugas membuat surat yang ditujukan kepada diri sendiri, yang akan dibuka ketika program selesai nantinya....dan materi pun selesai, VOC diujung waktunya.

Pada pertengahan hari, kami packing segera, saya-Emily-Charlotte-kak Rihaf berkumpul berempat, bertukar kembali souvenir yang sudah diberi sebelumnya...Charlotte menyerahkan vest pink kepada saya untuk diberi ke Emily, saya juga memberi sweater pemberiannya lagi, namun ia menolak, simpan saja katanya, ia akan cari benda lain untuk kak Rihaf, berkali-kali saya membujuknya untuk menerima kembali, namun...tetap ia tidak mau...

Setelah semua selesai packing, kami, 36 pemuda yang sudah bersama-sama selama 4 hari ini akan terpisah segera, 2 tim yang berbeda, 2 kota yang 45 menit jauhnya. Nanaimo dan Duncan, sampai jumpa di masa depan mendatang....

Saling berpelukan, melambaikan tangan, satu persatu kaki-kaki kami menaiki mini bus yang sudah siap membawa ke hidup selanjutnya. Hidup yang benar-benar di program, yang akan berbeda dengan camp yang begitu santai dan....segar

Perjalanan pun dimulai....menyusuri hutan-hutan, menuju kota hujan yang penuh kejutan. Selamat tinggal Cowichan Lake....



Perjalanan ini bagaikan dalam buaian, jatuh tertidur memang bagian dari kehidupan =_= Begitu bangun, mini bus sudah sampai di depan Port Theatre, Downtown Nanaimo. Di tempat ini, kami akan bertemu dengan host family. Deg-degan....super! :"D

Sebelum gladiresik menyambut para host families, kami diberi waktu untuk jalan-jalan singkat disekitar, melihat-lihat keadaan kota yang 3 bulan ke depan akan dipahami seluk-beluknya ;)

Singkat cerita, kami sudah kembali lagi ditempat, bersiap-siap...dan muncul di lobby dengan yel-yel Nanaimo-Pulau Kelapa uhu aha andalan, memberi pertunjukan kecil pada para host families, setelah itu dibacakan satu persatu pasangan hostfamily-youths :3

Emily dan saya dijemput oleh hostdad, Jerry Hinbest. Seorang professor sosiologi yang....mirip almarhum bulang :') Duduk bersama sambil makan nasi kari yang sudah disiapkan CWY, saling mengenalkan diri, excited!! 

Doski penasaran dengan salah seorang Indonesian yang menaruh begitu banyak sambal diatas nasi kari-nya, ia pun melakukan hal yang sama, merasa tertantang untuk mencoba. Doski belum tahu pada saat itu bahwa kebanyakan Indonesian adalah pecinta pedas, berbeda dengan mayoritas lidah Canadian, maka sambal di Kanada semuanya terasa tidak cukup pedas untuk kita. Lalu.....tersedak lah ia karena terlalu pedasnya >_< belakangan di hari-hari selanjutnya....ia memang orang lucu, well, banyak melakukan hal yang menyenangkan, mungkin tanpa ia sadari hihihi

Hingga waktunya kami dibawa pulang.....menuju rumah yang asing sama sekali, menjadi bagain dari keluarga yang juga belum pernah diketahui sebelumnya.

Begitu sampai rumah, bertemu hostmom, Jeanne Montemurro. Saat itu beliau sedang tidak enak badan, makanya tidak ikut menjemput kami. Maggie, hostsister kami satu-satunya juga masih belum pulang dari pekerjaannya.

Berkenalan, berpelukan dengan mom, mengobrol berempat di malam pertama itu, ditemani kepulan hangat teh yang disajikan, masih begitu asing dengan keadaan rumah. Bertanya ini itu, memberi tahu tentang kebutuhan Shalat, makanan Halal, dsb. Saya juga bertanya tentang peraturan di rumah, yang menurut senior-senior penting sekali ditanyakan sejak pertama sampai. Jawabannya adalah.....tidak ada. Tidak ada aturan, mereka cukup santai dan simpel :"D

Setelah beberapa jam mengobrol, waktunya tidur... Kamar kami adalah ruangan kecil di sebelah ruang kerja dad, kamar yang rapi dengan jendela kecil dan banyak sekali buku didalamnya, excited ingin baca semuanyaaaa. Namun sudah larut, dan akhirnya malam itu kami tertidur lelap melepas lelah, ditemani begitu banyak fikiran masih berjalan-jalan, mengira-ngira yang akan terjadi selanjutnya.

Episode 6 : http://rhadiatullah.blogspot.co.id/2015/07/senin-13-oktober-2014-canadian.html

Episode 4 : Sabtu, 11 Oktober 2014. Masih VOC. Masih Cowichan Lake

Akhirnya berhasil bangun tidak terlambat!!! :D Sebenarnya karena dibangunin sama roommates sih hihihi, lalu kita siap-siap singkat, begitu semangat mau canoeing~~~ excited bangunin tetangga-tetangga sebelah kamar, ngajakin ke danau sama-sama. Jadilah kami rombongan gadis-gadis-Indonesia-Kanada-yang-pagi-pagi-belum-mandi-tapi-super-semangat-mau-main-kano. Langkah tegap maju menuju pintu belakang asrama....tangan menyentuh gagang pintu....diputar....pintu terbuka....dan....hak! hujan! :')

 Hujannya engga deras, hanya angin yang agak kencang dikiiiittt~ tapi pertanda badai kecil gini tetap ngga memungkinkan untuk canoeing. Alhasil pada bubar jalan kembali merangkak kebawah selimut.

Tapi tidak dengan saya. 
Gaya banget. Hahaha.

Semangat ini belum luntur. Kalau canoeing dilarang, jalan-jalan dipinggir danau masih bisa kan? Di pagi yang keren ini, sayang sekali untuk dilewatkan XD 

Jalan-jalan pagi-pagi sendirian dipinggir danau ditengah hujan bukan masalah, tapi akan lebih menyenangkan kalau dilakukan bersama-sama ;D daannn....mungkin itu juga yang difikirkan Emily dan Vivien, yes! Bertiga, kami menyusuri danau pada pagi itu. Saling bercerita tentang kisah masing-masing, mendengarkan kisah satu sama lain, menikmati indahnya pagi walau hujan gemericik.

Vivien adalah salah seorang Canadian yang masuk tim Duncan-Pondok Meja, sementara Emily akan bersama-sama selama di Nanaimo-Pulau Kelapa. Mereka berdua baik sekali, daannn....ingat tentang wawancara tadi malam? Emily adalah nama yang saya sebutkan ke PS (Project Supervisor) sebagai pilihan pertama ketika mereka bertanya siapa yang diinginkan sebagai CP (counterpart) ;)

Hujan makin deras, kami bergegas kembali ke asrama. Mandi, lalu sarapan diruang utama.

Lagi, waktunya sesi. Bersemangat ke kelas, menanti ilmu apalagi yang akan kami nikmati. Ternyata mengenai topik-topik umum yang kemungkinan besar berbeda berdasarkan pandangan 2 kultur. Bentuk diskusi ini melibatkan visual, auditori, dan kinestetik, bagus sekali! Jadi, akan ada seseorang yang membacakan suatu kasus, kemudian orang yang merasa setuju dengan kasus tersebut bentuk kelompok di satu sisi, dan yang tidak setuju bentuk kelompok disisi lainnya, lalu siapkan alasan dari masing-masing kelompok tersebut.

Bentuk diskusi seperti ini menyenangkan, kita bergerak, dan memang terlihat dominasi satu kultur di satu pendapat. Hingga ada juga kasus universal yang disetujui oleh semua pihak ;D

Lalu ada permainan kursi-kursian juga, berlomba membuat gambaran yang mengalahkan gambaran lainnya. Kreatif, keren!

Berlatih penyambutan kelompok

Hingga hari pun kembali ditutup kelam. Waktu makan malam tiba, dan diberitahukan bahwa......malam ini akan ada pengumuman counterpart!!! Jeng-jeng-jeng.........harap-harap cemas, berdoa, lirik-lirik sasaran, menunggu........sambil makan cemilan daaann ngobrol sana-sini

Saat itu pun tiba. PS membagikan nama yang tertulis di kertas origami kepada pemiliknya masing-masing. Kertas tersebut tidak biasa, ada pola guntingan yang disengaja. Yak! kami harus mencari CP dengan mencocokkan potongan kertas tsb, seperti puzzle. Jika cocok, maka kalian adalah saudara, sahabat, teman hidup, rekan sekamar selama 6 bulan kedepan.

Satu persatu pasangan menemukan pasangannya......ada yang kelihatan bahagia luarbiasa, ada yang stay cool saja~ Saya melirik Emily.......dan......ternyata ia sudah loncat-loncat kegirangan bersama....kak Rihaf. Mereka adalah CP :))) lalu saya kembali melirik ke sekitar....selain Emily, saat wawancara saya juga menyebut nama Charlotte....kami saling menghampiri, mencocokkan origami, dan.....cocok! Kami berpelukan, loncat-loncat kegirangan jugaaa :D sebenarnya ada terbersit rasa sedih karena bukan yang sudah difavoritkan yang menjadi CP, tapi Charlotte juga baik, jadi tidak ada alasan untuk bersedih hati ^_^



Lalu setiap CP diharuskan membuat salam khusus, ala ala yel-yel berdua gitu. Kami jadi supermodel ala-ala, meneriakkan nama masing-masing-my lover-my counterpart, lalu berpelukan, dan tertawa-tawa riang. Setelah semua pasangan menunjukkan unjuk gaya, kami menari-nari bebas.....mmmm.....khas western sekali :"

Lelah. Ya, dan waktunya kembali ke kamar. Saya bersama Charlotte menuju asrama bersama, kebetulan kamar kami bersebelahan, Charlotte mengatakan ada sesuatu yang ingin diberikannya. Saya buka, sweater asli Hudson Bay, brand ternama asli Kanada yang bagus sekali dan saya tidak cukup berani untuk membeli karena harganya menyakitkan :')

Tuh kan, dia baik sekali. Dia bilang sangat senang kita jadi CP. Saya juga balas mengatakan hal yang sama. Vest etnik BatuBara-Sumut yang sudah saya siapkan untuk CP juga saya berikan kepadanya. Karena senang sekaligus ingin membunuh sebersit rasa kecewa yang masih timbul dengan nakal, saya kembali ke ruang utama untuk mengatakan pada beberapa teman yang masih ada bahwa CP saya baik sekali, sambil menunjukkan sweater pemberiannya. Ini salah satu cara mensugesti diri dari rasa kecewa. Tapi ya, saya juga memang bahagia. Diruangan, terlihat potongan origami bertuliskan nama kami, saya ambil, hendak menunjukkan kepadanya lagi agar disimpan. Saya bergegas kembali ke asrama.

Dia tidak ada di kamar, masih di kamar mandi, jadi saya berniat menungu saja di kamar saya sendiri. Tapi.....saya bertemu Emily di kamar. Ya, kami memang sekamar, makanya rasanya sudah cocok sekali....

Emily menanyakan apakah saya bahagia. Saya jawab, ya saya harus bahagia, bagaimana denganmu?

Kemudian dia terdiam, lalu mengatakan bahwa sebenarnya dia memilih saya, mengharapkan saya yang menjadi CPnya. Saya kaget, ternyata kami sama. Terbawa perasaan, saya juga mengaku kalau dia yang saya harapkan.

Dia mengatakan merasa sedih sekali, lalu mulai menangis. Saya tambah kaget. Benar-benar kaget, semakin terbawa perasaan, dan ikut larut dalam tangisannya. Kami saling mencurahkan perasaan dan menangis bersama. Tapi tangisan itu diusahakan jangan sampai mengeluarkan suara, sakit, sedih. Pilu sekali rasanya. Teman-teman sekamar mulai menghampiri, kak Ewis dan Dahnait. Bahkan kak Lia yang sekamar dengan Charlotte juga menghampiri. Mereka semua bertanya ada apa, kami mengaku pada mereka, tapi berpesan jangan sampai CP kami masing-masing tau.

Kami mulai meracau, menyesali keadaan, dan tiba-tiba tercetus ide dari si doi untuk bertukar CP saja, meminta pada PS. Saya kaget. lagi-lagi kaget. Nih bule-bule emang tipenya pada nekad ya? Berani banget. Dan.....itu bisa menyakiti CP kami yang sesungguhnya.

Tapi saya malah mengiyakan. Perasaan memang menghanyutkan. Mencoba menghapus air mata yang ada, menyembunyikan sisa-sisa sembab, kami mengendap-endap keluar asrama. Agar tidak ada yang curiga, kami keluar bergantian. Saat berjalan menuju ruang utama, saya masih bimbang. Benarkah ini cara yang benar? Saya tanya lagi pada doi, serius mau tanya soal ini? Yakin emang bisa? Dan dia mengiyakan dengan mantap. Duh, saya khawatir T_T

Sampai di ruang utama, masih ada beberapa orang, termasuk kak Rihaf, duh makin segan rasanya....lalu kami menghampiri kak Adit dan Simon, bilang ingin bicara.Melihat wajah kami yang sembab, wajah mereka langsung terlihat khawatir.

Kami duduk berempat dipojokan. Sulit untuk memulai pembicaraan. Tapi akhirnya semuanya mengalir, menangis lagi, terbawa emosi, rasa, harap, dan sebagainya. Sampai lewat jam 1 pagi, masih berembuk dengan haru......PS kami ini sangat terbuka dan hangat, mereka peduli namun juga ingin kami berfikir lebih luas, menegosiasi cara-cara yang memungkinkan atau menjalali semuanya, toh semua bakal mengalir nantinya.

Saya sudah pasrah, ngga usah dirubah gapapa deh....tapi akhirnya hasil dari diskusi kami adalah....kami berdua harus bicara sama CP masing-masing, kalau mereka setuju, maka kami bisa bersama. Ini yang saya takutkan, membuat mereka.....tersakiti oleh kami.

Singkat cerita, kami bertemu kak Rihaf, berbicara, dan.....ia setuju. Emily adalah orang yang pintar berdiplomasi, kata-katanya halus, ekspresinya tulus....namun dibalik itu, ia punya keinginan yang keras dan usaha untuk mewujudkannya. The real Canadian.

Charlotte sudah tidur, jadi kami harus menunggu besok pagi untuk mengatakannya....saat itu sudah jam 2 pagi, kami melapor perkembangan terbaru ke kak Adit dan Simon, lalu pergi tidur....

Episode 5 : http://rhadiatullah.blogspot.co.id/2014/12/minggu-12-oktober-2014-hari-terakhir-voc.html

Monday, December 1, 2014

Episode 3 : Tentang hari ketiga yang ditulis pada hari ke lima puluh tiga :')

Jumat, 10 Oktober 2014 di Cowichan Lake, British Columbia, Canada

Telat banguuunnn.....ngga jadi ikutan canoeing.... T_T

Buru-buru siap-siap, sarapan, daaannn menuju kelas. Hari ini banyak diskusi, presentasi kelompok, dan sebagainya~ Sudah lebih akrab, lebih hangat, lebih hafal semua nama-nama teman-teman baru ini ^o^ jeda istirahat ada banyak, kita super fleksibel, dan Alhamdulillah selama VOC juga disediain ruangan untuk kita solat berjama'ah :'D

Hingga tidak terasa senja menyongsong, kelas bubar, dan kita semua kumpul di ruang utama. Nonton salah satu episode TED, bagus tapi berat :')

Setelah itu kita bebas lagiiiii~ main piano, main monopoli, saman-samanan, main apaaaa ajaaaa sampai tengah malam. Kalo ngga salah sambil nunggu giliran diwawancarai Kak Adit dan Simon (Project Supervisornya kita) juga ni, wawancara tentang kriteria hosftfamily idaman, counterpart pilihan 1 dan 2, dsb~




Selamat! Kali ini singkat saja hihihihi. Prokastinasi memang bahaya! Semakin lama menunda semakin lupa auranya :"

Episode 4 : http://rhadiatullah.blogspot.co.id/2014/12/sabtu-11-oktober-2014-masih-voc-masih.html

Wednesday, November 19, 2014

Episode 2 : Tentang hari kedua yang ditulis pada hari ke empat puluh satu :')

Kamis, 9 Oktober 2014 di Cowichan Lake, British Columbia, Canada

Rembulan kembali ke peraduan, hari baru tiba menjelang. Manisnya pagi, membuka pandang ke langit-langit kamar, percakapan bahasa inggris terpantul-pantul di udara. Rasanya seperti di film.......seperti asrama sekolah-sekolah orang-orang berkulit putih di telenovela dahulu kala. 

Masih seperti mimpi, saya benar-benar disini, menjadi bagian dari persekutuan pemuda-pemudi 2 bangsa yang begitu berbeda. Ucapan selamat pagi, menanyakan bagaimana tidur semalam, bergentayangan dari kamar ke kamar. Kemudian bersiap-siap singkat karena bangun yang sebenarnya sudah pada telat, sarapan sudah menunggu.

Beramai-ramai di ruang makan yang besar, dimana lagi-lagi percakapan bahasa inggris berdentang-denting di udara, Mencoba berkenalan lebih dekat, mengobrol lebih jauh, setiap waktu makan nantinya akan seperti ini dan berganti-ganti teman sebelah di meja. 

Seusai sarapan yang luar biasa banyak pilihannya, kami, 36 pemuda pemudi Indonesia Kanada (Habibah, Emily, Lyanda, Gillian, Jeni, Anais, Mute, Kianna, Rihaf, Charlotte, Rifan, Cale, Ihram, Donovan yang sebenarnya nyusul datangnya, Adi, Caelhan, Arief, Alexis, Rahmi, Anne, Takim, Robert, Bagus, Jason, Syifa, Audrey, Lia, Vivien, Yayang, Andrew, Ayim, Chelsea, Jeffry, Nathaniel, Ewis, Dahnait) berkumpul diruangan workshop, siap menerima materi pertama selama VOC. Materi pertama sudah jelas seperti yang biasa dimana-mana, perkenalan.

Perkenalan tentang diri, tentang program, tentang peraturan, tentang segala hal-hal baru yang akan segera dihadapi. Berbagai kesan pertama muncul, walau belum hafal semua nama-nama yang ehem, agak susah, lagipula wajahnya juga mirip-mirip hihihi. Materi diselingi dengan permainan-permainan yang membuat tidak sadar waktunya untuk makan siang sudah datang.

Daun Maple pertama, nemu di ruang workshop :')
Suasana ruang Workshop

Setelah makan siang yang tidak kalah besar seperti sarapan sebelumnya, kita kembali ke kelas, diberi tugas untuk presentasi, kemudian keluar lagi. Ya! Presentasi akan dilakukan diluar ruangan, menkmati cerahnya lagit dan indahnya alam :'D

Jadi presentasinya tuh berbasis kenegaraan, tim Indonesia dan tim Kanada. Masing-masing beri gambaran seingkat tentang negaranya, seperti pengetahuan umum, budaya, politik, dll. Emang pada senang nyanyi dan nari kali ya? Dua hal ini ndak kunjung tertinggal baik di kedua kubu :"D

Hingga malam tiba, setelah lagi-lagi makan malam, api unggun siap menyala :D dari lokasi asrama, kita menembus sedikit hutan menuju tepi danau. Pertama kali makan marshmallow yang dibakar langsung di api unggun, lembut, manis, hangat, meleleh, enak sekaliiiiii :')

Bulan juga sangat indah pada malam itu, dipinggir danau yang tenang, malam hari yang dingin, kobaran api yang menyala-nyala, riangnya suara tawa, merdunya alunan nada lagu-lagu cinta, malam yang bersinar-sinar, takjub mengapa begitu mudah persekutuan 2 bangsa ini menyatukan jiwa :3

Cukup dingin.....dan semakin malam.... Saya dan beberapa teman bergegas kembali ke aula yang juga ruang makan, dimana 24 jam selalu ada cemilan :"

Bukannya langsung tidur, mata terpaut pada piano di sudut ruangan, kami dengan antusias mengelilinginya, bermain bersama, sampai larut...sampai hanyut...dan buat janji untuk coba canoeing keesokan paginya ;)

Episode 3 : http://rhadiatullah.blogspot.co.id/2014/11/tentang-hari-ketiga-menundyang-ditulis.html

Friday, October 31, 2014

Episode 1 : Sudah Tiba Waktunya. Sudah Tiba Waktunya :D

Assalamualaikum!!!! Lama sudah rasanya tidak mendengar dan memperdengarkan salam penuh doa keselamatan itu disetiap hari :")

Ya. Allah telah menunjukkan kembali kehebatannya, kemahakuasaannya. Saya, putri Indonesia, eehhh, wanita asli Indonesia, berdarah murni Karo (salah 1 dari 8 etnis asli Sumatera Utara), yang hampir seumur hidup tinggal di kota Medan dan menjalani hari bersama keluarga, kini diizinkanNya merajut hari dibelahan bumiNya yang lain.

Melintasi ribuan mil, melewati samudera, terombang-ambing beberapa masa di angkasa, bertemu dunia yang berbeda, merajut hidup dengan gejolak muda

Cottleview Dr, Nanaimo, British Columbia, Canada. Selama 3 bulan kedepan, saya akan bersemayam disini, menatap pohon-pohon raksasa melewati dinding kaca besar menuju bukit penuh rusa dibelakangnya. Ayah, ibu, saudara-saudara perempuan, disini kami tinggal bersama. Kita keluarga, sama seperti yang murni tertaut aliran darah di Pasar 3 Tanjung Sari, Medan, Sumatera Utara, Indonesia.

Saya tidak bisa menunda lebih lama lagi, kisah ini terus mengalir dari satu masa ke waktu selanjutnya. Sudah terlalu banyak yang tercatat menjadi tulisan buram mempersiapkan semua tulisan ini naik kepermukaan. Saya siap sedia untuk mengulang semuanya, menceritakan kembali kisah yang sudah direncanakanNya dan kejutan-kejutan penuh rahasia.

Sesungguhnya proses ini begitu panjang, semua sudah berawal sejak setengah tahun yang lalu. Semoga akan ada suatu waktu saya dapat menguraikan kembali semuanya sejak saat itu. Hari ini, di pagi hari yang dingin pada musim ketika daun-daun mengatakan sampai jumpa pada rantingnya, di Cottleview Dr, saya akan memulai dari hari pertama saya berada di negara bersistem pemerintahan demokrasi federal ini.


Rabu, 8 Oktober 2014 di Kanada. Kamis, 9 Oktober 2014 di Indonesia
Lima puluh orang pemuda Indonesia ber-attire one biru mendaratkan diri di Vancouver International Airport, setelah perjalanan jauh nyaris dua hari meggunakan pakaian kebanggaan yang sama, yang aromanya tetap baik-baik saja (hahaha).

Takjub, kini kita menginjak bagian bumi yang berbeda :") Bergegas menuju bagian imigrasi, kita mau ditanya-tanya nih, saya sempat berfikir, mungkin wawancara akan menjadi proses sepanjang masa yang tiaaaada habisnya. 

Setelah beberapa waktu bergantian ditanyai petugas imigrasi, kita ber50 lolos!!! \:D/ Namun kebersamaan kita ber50 selama kurang lebih 2 minggu terakhir sudah sampai pada ujungnya...kita akan berpencar menjadi 5 kelompok, menuju 5 lokasi yang berbeda di tanah negeri persemakmuran Inggris.

Whitehorse, Yukon, tempat paling dingin di Kanada. Camrose, Alberta, kota yang simbolnya rose. Haida Gwaii, BC, tempat first nation banyak menempatinya. Duncan, BC, kota kecil yang totem dimana-mana. Nanaimo, Snuneymuwx, harbour city, kota yang santai, yang juga hujan setiap hari. 

Tim Nanaimo dan Duncan akan tetap bersama hingga Volunteering Orientation Camp (VOC) selesai, namun tim lainnya akan terpisah pada detik itu juga. Berangkulan, berfoto bersama, berpisah untuk kembali bertemu lagi nantinya. Saya dan dua kakak terdekat saya, yang setiap hari tidur bersama selama Pre Departure Training (PDT) di Mess Memet Seskoal, Jakarta, yang menghabiskan begitu banyak waktu konyol bersama, juga akan terpisah pada masa itu T_T

Kak Nindy penari sejati nan lincah dari Kalimantan Barat dengan kisah surat cintanya dan uang Rp 1000 dari secret admire di amplop inbox PDT akan berjuang melawan dingin di Yukon. Kak Dika, gadis Jawa Timur yang supel nan ceria dan dalam 2 menit saja bisa langsung melepas kesadaran dirinya akan bertarung ala indian di Haida Gwaii. Setiap hari kita berjuang menutup pintu kamar yang rusak, berlomba mandi super cepat, tidur 2 jam yang nikmat, bermake-up hanya dalam beberapa ketukan notasi nada, saling menjawab couple yang sudah menjemput pada pagi hari "iyaaa sebentar lagi", sempat-sempatnya curhat-curhatan di waktu jeda yang sempit, kecarian kunci kamar siapa yang pegang, surat-suratan lewat inbox padahal tinggal 1 kamar, nekad jemur pakaian di luar sementara yang lain jemur pakaian di dalam, pernah dapat predikat kamar ter-uhuk hingga akhirnya taubat pada malam itu juga, daaaannnnn masih banyaaakkk lagi kisah kita di 3 ranjang yang sengaja kita rapatkan bersama, mempermudah setapak jalan kamar dan juga jalannya kita bergosip, aahh sampai jumpa roommates tersayang, sampai jumpaaaa :")


Setelah semua menuju jalannya masing-masing, tim Nanaimo dan tim Duncan membusungkan dadanya bersemangat menuju bus sekolah yang sudah menunggu. Serius, kita naik bus sekolah!!! XD

Sepanjang perjalanan menuju suatu tempat untuk melaksanakan VOC yang kita pada saat itu belum tahu kemana, kita bernyanyi dan berceloteh dengan riangnya. Hingga pada satu jalan, kita melewati sebuah masjid. Ya! Ada masjid di Kanada! Allahu Akbar :"D

Sesampainya di sebuah pelabuhan, (pelabuhan kali ya?) kita dapat uang jajan pertama, 30 dollar :"D Ferry yang akan kita naiki masih beberapa jam lagi, kita punya jeda waktu untuk apa saja, terutama makan siang. Terakhir kali makan adalah jam 6 pagi di pesawat, dan saat itu sudah jam 3 siang, super lapar! Hahaha. Oke, uang jajan pertama segera terpakai, dengan berbagai pertimbangan mahalnya harga dan kehalalan makanan yang ada, untuk pertama kalinya XD

Singkat cerita, tiba waktu kita menaiki sang kapal. Oke, program kali ini benar-benar plus-plus. Sudah transit di Korea, akan naik kapal yang besar pula. ICYEP 2014 include IKYEP dan SSEAYP :)))))))


Pamerin saman ke penumpang kapal dan bernyanyi-nyanyi riang kerap kami lakukan. Hingga malam tiba, kita diajak untuk melihat sesuatu yang menakjubkan. Ciptaan Allah yang tiada duanya. Bulan, purnama sempurna, bercahaya terang, menemtramkan, memesona, menakjubkan. Bulan malam itu begitu indah. Begitu sempurna. Dingin sekali udara laut pada saat itu, tapi cahaya yang satu itu menyirnakan gigitan dinginnya malam. Kabut yang menyelimuti sekitar menambah dramatis situasi, Dari kejauhan, juga terlihat kerlap kerlip cahaya dari kota di samudera sebrang. Indah :")

Hingga malam semakin temaram, kita sampai di pelabuhan sebrang. Menggunakan mobil, kita menuju kegelapan. Serius gelap, masuk ke hutan-hutan, jalan berlika-liku, tas yang dipangku terasa bertambah berat, hingga semua tak terlihat. Saya tidak lagi sadarkan diri. Tertidur dalam buaian perjalanan.

Beberapa jam kemudian......sampai. Terbangun masih dalam kegelapan, di suatu tempat yang dikelilingi pohon-pohon raksasa dan suhu udara dibawah biasa. Kita tiba disana, tempat VOC akan bermula.

Buru-buru turun dari mobil. Melambaikan tangan dalam gelap, kearah dimana pusat rasa deg-degan berasal. Para Canadian. Ya, mereka hanya beberapa meter jaraknya. Mereka yang akan menjadi bagian dari kehidupan selama 6 bulan kedepan. Mereka yang bisa saja jadi sahabat terdekat, namun juga berpotensi menjadi teman yang tidak cocok dalam segala hal.

Mereka.....orang asing.

Masih dalam gelap, Indonesian sudah turun semuanya dari mobil. Menghampiri mereka yang sudah berbaris rapi, 18 orang Canadian. Bersalaman bergantian, berkenalan, menyebutkan nama masing-masing, mencoba mengingat dalam waktu cepat. Masih dalam gelap, masih hangat oleh deg-degan.

Kemudian kami berjalan menuju ruang utama. Terang. Sangat terang. Pertama kalinya mengamati wajah mereka satu-persatu. Mereka menyambut dengan hangat, namun ada beberapa yang wajahnya agak.....berbeda. Melihat kami dengan....ternganga? *yang pada akhirnya kini jadi dekat juga ;D

Kami memberikan yel-yel andalan, mereka menyambut dengan tarian. Hingga tiba saatnya memilih kamar, Seorang perempuan cantik yang berkulit hitam dan berambut ikal menawarkan bantuannya untuk membawa barang-barang bawaan. Namanya Dahnait, ia baik sekali, dan akhirnya kami sekamar, bersama kak Ewis dan juga Emily. Kenalan lebih jauh, bercerita hal-hal kecil. Super!

Berbenah barang-barang sebentar. Membersihkan diri. Hingga tiba saatnya beristirahat. Excited tingkat maksimal, tidak terasa lelah sedikit pun! :D

*akhirnya selesai juga kisah di hari pertama....akan menyusul catatan beberapa puluh hari berikutnya, stay tune! ;D

Episode 2 : http://rhadiatullah.blogspot.co.id/2014/11/tentang-hari-kedua-yang-ditulis-pada.html

Monday, August 18, 2014

RencanaNya Selalu Merdeka-kan Jiwa

Ketika hatimu bergumul risau, tuliskanlah, niscaya akan ada setitik air syurga yang jatuh dan menyublim ke penjuru lainnya sehingga ketenangan itu kembali datang.

Itu yang saya rasakan setelah menulis postingan yang terakhir. Pelan-pelan jadi bisa berfikir lebih jernih lagi, lebih lega :")

Okaiii, kita masuk ke catatan-hati-seorang-calon-istri-dan-calon-ibu (hahaha) yang selanjutnya yah

Dirgahayu Indonesia-ku, Happy 69th Independence Day!!! \(^^)/

Ada yang berbeda diperingatan hari kemerdekaan tahun ini, ada kejutan lagi yang menghiasi sudut-sudut berkabut

Sebagai mahasiswa yang mencintai kampusnya, hihihi, saya selalu hadir di setiap upacara nasional yang diadakan, lebih tepatnya diwajibkan untuk selalu hadir. Sebenarnya ini berhubungan dengan kucuran rupiah yang dipersembahkan setiap tahun dari pemerintah :)))) di kampus ada peraturan, bagi yang Alhamdulillah dapat beasiswa, harus selalu ikut upacara-upacara seperti ini

Siang hari sebelum hari H, masuk sms dari teman saya yang kemarin sama-sama berangkat ke Bandung untuk ikutan Kasep 2014. Ia menginformasikan besok harus datang jam 7.15 dan pakai jaket almamater. Olala, upacara biasanya dimulai jam 8, kenapa kami diminta datang lebih pagi? Ada feeling yang baik nih :")

Ternyata benar, sesampainya di kampus, kami yang katanya total ada 20orang dari berbagai fakultas, yang tidak semuanya saya kenal diberi pengarahan mengenai tempat berbaris dan penghargaan yang akan diberikan. Allahu Akbar! Saya akan berbaris di tempat spesial, di bagian depan, tempat biasanya mahasiswa berprestasi diumumkan, tempat yang sejak saya masih menjadi mahasiswa baru dulu saat pertama kali mengikuti upacara di USU selalu saya lirik-lirik dari kejauhan, tempat yang saya doakan diam-diam dari barisan saya yang biasa bisa menjadi tempat saya disuatu hari, dan kesempatan untuk menempati tempat itu ternyata sungguh nyata, doa saya kembali dikabulkanNya.....

Jadilah itu upacara paling tertib selama saya mengikuti upacara disana :')

Hingga tiba masa pemanggilan nama-nama kami yang ber-20 untuk maju ke depan podium dan memeroleh penghargaan, ternyata ada kejutan lainnya

Kami mendapat tunjangan, uang tunai, yang jumlahnya Alhamdulillah sekaliiiii. Saya langsung teringat kebutuhan-kebutuhan logistik yang begitu banyak untuk keberangkatan pertukaran nanti, sejujurnya saya sedang kesulitan, dan Allah kembali menunjukkan kuasanya, rezeki itu datangnya begitu indah kawan :')

Rektor dan PR3 menyalami kami satu persatu, mengucapkan selamat, mengapresiasi tinta yang telah kami torehkan, memberikan hadiah-hadiah itu, lalu berfoto bersama. Sederhana saja, tapi berhasil menggetarkan hati saya yang teringat ayat ini... ".....Call on Me, I will answer your prayers....."

".....Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku perkenankan bagimu....." (QS. Al Mu'min : 60)

Doa itu nyata. Doa itu senjata :"D


Reuni Tim Psikologi USU untuk Kasep 2014 XD
Terima kasih banyak....ini sangat berarti :')

Bersama mereka yang rindunya udah luarbiasa, tapi kurang poyi :")

Sunday, August 10, 2014

Ada Jeda Bahkan Ketika Mimpi Dijemput Masa

Ada sesuatu yang kurang, ada perasaan yang menghantui saya, ada ketakutan-ketakutan yang membisiki dengan hebohnya

Saya berbeda, tidak sama dengan tekad semasa itu. Saya berbeda, dan saya merasa rindu pada masa masih biasa

Saya rindu dengan masa nyaman menjadi seorang yang....dulu. Berkumpul bersama mereka, diingatkan dengan hal-hal setelah dunia

Bukan itu, mungkin timbul kepengecutan menghadapi apa yang sudah saya minta-minta. Rasanya penuh tanya, rasanya takut, rasanya ragu benarkah ini yang seharusnya

Benarkah saya menjauh? Apakah yang sudah terlewat jauh?

Pengorbanan, pilihan, pagi hingga malam, kebersamaan, menduakan banyak hal, hari yang berbeda, fikiran yang bergumul-gumul, perbandingan-perbandingan, kehampaan, benarkah ini jalan saya?

Mungkinkah setiap orang akan ada pada masa ketika ia mempertanyakan apa yang sudah lama yang ia impikan?

Sebenarnya saya tidak ingin mengakui perasaan ini. Tapi tidak seharusnya dipendam dalam dusta, dan kini waktunya bercerita

Saya tidak sanggup menceritakan dengan jelas, biarlah kode-kode seperti ini membantu melepas sesak di dada.

Saya sudah berbeda, belum jauh, tapi mungkin akan lebih jauh.Tidak apa jika itu baik, tapi bagaimana kalau sampai kehilangan tujuan utama?

Mengingatnya dalam bentuk kata mungkin tidak mustahil, tapi merasakannya lagi, menghirup secercah harapan yang dulu berkobar-kobar

Mungkin saya butuh jeda, Berhenti sebentar dari semua ini. Tapi tidak! Saya bahkan belum melakukan apa-apa, persiapan ini tidak cukup, sama sekali tidak mendekati cukup. Saya malu kenapa begitu lama, miris rasanya.

Ketika diri sendiri memang menjadi tantangan yang utama, ketika bayangan-bayangan menambah bumbu supaya drama semakin seru, ketika setiap hari ada yang kurang berarti, ketika semuanya harus disyukuri tapi kemudian kembali berfikir keras sekali, ketika lupa menjadi resep utama, saya merasa payah

Saya butuh kembali langkah awal dan melihat keadaan sekarang dari masa itu. Saya tahu kemana harus berlari, namun bagaimana caranya terasa begitu jauh. Saya jatuh.

Banyak sekali yang tertunda, banyak sekali niat yang terbengkalai, dan lebih banyak lagi penyesalan-penyesalan yang menghantui diri sendiri. Seakan-akan fikiran-fikiran ini menjadi awan di segala penjuru langit. Saya butuh kembali pada yang seharusnya.