Monday, April 9, 2012

Psikologi Sekolah (Anggota Kelompok Berdasarkan Tugas Mini Proyek)

Kelompok 1 :


Kedudukan Psikologi Sekolah dalam Ilmu Psikologi
Psikologi Sekolah adalah bidang yang menerapkan prinsip-prinsip psikologi klinis dan psikologi pendidikan dengan diagnosa dan pengobatan anak-anak dan 'remaja perilaku dan masalah belajar. Pada dasarnya psikologi sekolah memiliki kedudukan yang penting karena psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi. Yang bertujuan untuk membentuk mind set anak. Psikologi sekolah dapat melakukan penilaian psikologis dan memberikan bimbingan dan konseling baik untuk anak dan keluarga anak. 

Apa Perbedaan Psikologi Pendidikan dan Psikologi Sekolah ?

Psikologi pendidikan
 melakukan penelitian tentang dinamika kelas, gaya mengajar dan belajar variabel. Belajar dan memperbaiki bagaimana sub-kelompok penduduk belajar-seperti anak-anak berbakat dan mereka yang cacat pembangunan. Perhatikan bahwa Psikolog pendidikan tidak boleh disamakan dengan konselor sekolah atau psikolog sekolah, yang membantu siswa satu-satu. Psikolog pendidikan umumnya bekerja di sekolah-sekolah, universitas, bisnis, industri, pusat belajar dan pengaturan pembangunan manusia. Psikolog pendidikan membantu dengan mendiagnosis dan memberikan alat untuk mengobati, membantu atau berurusan dengan perilaku atau tantangan.

Psikologi sekolah adalah profesional terpercaya yang utama tujuannya adalah penerapan prinsip-prinsip ilmiah belajar dan perilaku untuk memperbaiki sekolah terkait masalah dan untuk memfasilitasi pembelajaran dan pengembangan anak-anak di sekolah-sekolah umum Untuk mencapai tujuan ini psikolog sekolah menyediakan jasa untuk anak-anak, guru, orang tua, masyarakat lembaga, dan sistem sekolah itu sendiri. berurusan dengan mengidentifikasi anak-anak dalam sistem sekolah yang berfungsi pada tingkat yang lebih tinggi pendidikan untuk usia serta anak-anak yang menunjukkan pola perilaku tertentu seperti ADHD, disleksia atau hambatan pidato. Perhatian juga diberikan kepada anak-anak yang cacat mental atau fisik. Psikolog sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi.Yang bertujuan untuk membentuk mind set anak.


Fungsi Sekolah sebagai Agent Of Change

Pendidikan berfungsi untuk menyampaikan, meneruskan atau mentransmisi kebudayaan, di antaranya nilai-nilai nenek moyang kepada generasi muda. Dalam fungsi ini sekolah itu konservatif dan berusaha mempertahankan status quo demi kestabilan politik, kesatuan dan persatuan bangsa. Di samping itu sekolah juga turut mendidik generasi muda agar hidup dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang cepat akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal ini sekolah merupakan agent of change atau lembaga pengubah. Sekolah mempunyai fungsi transformatif, setidak-tidaknya sekolah harus dapat mengikuti laju perkembangan agar bangsa jangan ketinggalan dalam kemampuan dan pengetahuan dibanding dengan bangsa-bangsa lain. Untuk itu, kurikulum harus senantiasa mengalami pembaruan dan perubahan.
Perubahan dari negara agraria menjadi negara industri modern  memerlukan orientasi baru bagi sekolah kejuruan yang menyediakan tenaga kerja yang sesuai dan juga sekolah-sekolah lain.
Tiap perubahan dapat mempunyai efek negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sebagai polusi, kemiskinan, kejahatan, kemerosotan moral, konflik-konflik sosial, seks bebas, dan sebagainya.
Dalam kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan sekolah me-megang peranan penting sebagai agent of change untuk membawa perubahan-perubahan sosial, akan tetapi dalam norma-norma sosial, seperti keluarga, agama, filsafat bangsa, sekolah cenderung untuk mempertahankan yang lama dan dengan demikian mencegah terjadinya perubahan yang dapat mengancam keutuhan bangsa.

Metode dalam Sistem Pengajaran di Sekolah

1. Metode Ceramah (Preaching Method)
Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan saecara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Muhibbin Syah, (2000). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa.

2. Metode diskusi ( Discussion method )
Muhibbin Syah ( 2000 ), mendefinisikan bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama ( socialized recitation ).

3. Metode demontrasi ( Demonstration method )
Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Muhibbin Syah ( 2000). Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Syaiful Bahri Djamarah, ( 2000).

4. Metode ceramah  plus
Metode ceramah plus adalah metode mengajar yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah gabung dengan metode lainnya.Dalam hal ini penulis akan menguraikan tiga macam metode ceramah plus yaitu :

5. Metode resitasi ( Recitation method )
Metode resitasi adalah suatu metode mengajar dimana siswa diharuskan membuat resume dengan kalimat sendiri (http://re-searchengines.com/art05-65.html).

6. Metode percobaan ( Experimental method )
Metode percobaan adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Syaiful Bahri Djamarah, (2000). Metode percobaan adalah suatu metode mengajar yang menggunakan tertentu dan dilakukan lebih dari satu kali. Misalnya di Laboratorium.

7. Metode Karya Wisata
Metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik, yang kemudian dibukukan.

8. Metode latihan keterampilan ( Drill method )
Metode latihan keterampilan adalah suatu metode mengajar , dimana siswa diajak ke tempat latihan keterampilan untuk melihat bagaimana cara membuat sesuatu, bagaimana cara menggunakannya, untuk apa dibuat, apa manfaatnya dan sebagainya. Contoh latihan keterampilan membuat tas dari mute/pernik-pernik.

9. Metode mengajar beregu ( Team teaching method )
Metode mengajar beregu adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas. Biasanya salah seorang pendidik ditunjuk sebagai kordinator. Cara pengujiannya, setiap pendidik membuat soal, kemudian digabung. Jika ujian lisan maka setiap siswa yang diuji harus langsung berhadapan dengan team pendidik tersebut.

10. Metode mengajar sesama teman ( Peer teaching method )
Metode mengajar sesama teman adalah suatu metode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri

11. Metode pemecahan masalah ( Problem solving method )
Metode ini adalah suatu metode mengajar yang mana siswanya diberi soal-soal, lalu diminta pemecahannya.

12. Metode perancangan ( projeck method )
yaitu suatu metode mengajar dimana pendidik harus merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai obyek kajian.

13. Metode Bagian ( Teileren method )
yaitu suatu metode mengajar dengan menggunakan sebagian-sebagian, misalnya ayat per ayat kemudian disambung lagi dengan ayat lainnya yang tentu saja berkaitan dengan masalahnya.

14. Metode Global (Ganze method )
yaitu suatu metode mengajar dimana siswa disuruh membaca keseluruhan materi, kemudian siswa meresume apa yang dapat mereka serap atau ambil intisari dari materi tersebut.

15. Metode Discovery
Metode Discovery menurut Suryosubroto (2002:192) diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorangan, manipulasi obyek dan lain-lain, sebelum sampai kepada generalisasi.


Permasalahan yang Terjadi Di Sekolah

1. Bullying
Sedikitnya ada 2 masalah utama dibalik terjadinya bullying di sekolah : Penampilan, dan Status sosial. Pelaku bullying (disebut “Bully”) selalu memilih target / korban dari kalangan teman yang menurut mereka tidak cocok untuk bergaul bersamanya; bisa karena penampilan, sifat (misalnya pemalu, pendiam), ras, agama, atau suku. Dan pilihan target akan jatuh pada individu yang menurut mereka inferior atau di bawah strata mereka. Bullying dapat terjadi secara fisik, psikologis, verbal, maupun seksual. Secara fisik contohnya dengan dipukul, dicubit, didorong, dijegal, dll. Secara psikologis misalnya dipermalukan di depan umum, dipanggil dengan nama cemoohan, dihasut, difitnah, barang-barangnya disembunyikan, dll. Secara verbal contohnya dicaci maki langsung, diteror (baik melalui telepon, sms, atau email). Secara seksual bisa terjadi dari yang paling ringan dicolek-colek, sampai yang paling parah diperkosa.

2. Tawuran Antar Pelajar
Tawuran merupakan perilaku anarki berkelompok antar kelompok remaja yang biasanya berawal dari masalah yang sepele. Pemicu tawuran seringnya karena rasa emosi remaja yang masih labil hingga sulit untuk dikontrol ketika dihadapkan pada tantangan. Selain itu, kesetiakawanan juga sering menjadi alasan mengapa pelajar melaukan tawuran.

Disekolah perselisihan bisa terjadi antara:
1. Siswa dengan siswa
2. Guru dengan guru
3. Orang tua dengan guru
4. Guru dengan pimpinan (kepala sekolah)
Berikut ini adalah cara penyelesaian masalah menurut subyek yang berselisih;

Siswa
·         bicara langsung ke orang yang mengganggu, minta bantuan teman jika diperlukan.
·         katakan kepada teman yang mengganggu “Stop! saya tidak suka kamu berbuat seperti itu!”
·         acuhkan (pergi dari orang yang mengganggu serta lakukan kegiatan untk menghindar)
·         cari bantuan dari orang yang mau mendengar dan membantu (guru kelas , guru BP atau orang tua)

Orang tua siswa
·      buatlah janji dengan pihak yang berkepentingan, tuliskan apa yang menjadi masalah, bicarakan masalah dengan guru serta harapan apa yang di inginkan.

Guru
·         identifikasikan masalah anda,
·         bicarakan dengan rekan sekerja mengenai masalah anda
·         mintalah rekan kerja anda untuk bersikap obyektif
·       adakan pendekatan dengan orang yang mempunyai masalah dengan anda lalu gunakan pernyataan “saya” untuk menggambarkan bagaimana perasaan anda untuk kemudian memudahkan anda dan rekan kerja bekerja dengan penuh harmonis dan kerja sama di masa mendatang.



Apa Peranan/ Tugas dari Psikolog Pendidikan dan Psikolog Sekolah?

Peran Psikolog Pendidikan :
 
Psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut :

  • Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas. Menilai belajar dan kebutuhan emosional dengan mengamati dan konsultasi dengan tim multi-lembaga untuk memberikan saran tentang pendekatan terbaik dan ketentuan untuk mendukung pembelajaran dan pengembangan.
  • Mengembangkan dan mendukung program pengelolaan terapi dan perilaku.
  • Merancang dan mengembangkan kursus untuk orang tua, guru dan lain-lain yang terlibat dengan pendidikan anak-anak dan remaja pada topik-topik seperti bullying.
  • Merancang dan mengembangkan proyek-proyek yang melibatkan anak-anak dan kaum muda.
  • Menulis laporan untuk membuat rekomendasi formal tentang tindakan yang akan diambil, termasuk pernyataan formal.
  • Menasihati, negosiasi, membujuk dan mendukung guru, orang tua dan profesional pendidikan lainnya.
  • Menghadiri konferensi kasus yang melibatkan tim multidisipliner tentang cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan sosial, emosional, perilaku dan pembelajaran anak-anak dan kaum muda dalam perawatan mereka.
  • Mengutamakan efektivitas: konteks dan lingkungan yang mempengaruhi perkembangan anak dipandang sebagai semakin penting.
  • Penghubung dengan profesional lain dan memfasilitasi pertemuan, diskusi dan kursus;
  •  Mengembangkan dan meninjau kebijakan-kebijakan.
  •  Melakukan penelitian aktif.
  • Merumuskan intervensi yang berfokus pada penerapan pengetahuan, keterampilan dan keahlian untuk mendukung inisiatif lokal dan nasional.
  • Mengembangkan dan menerapkan intervensi yang efektif untuk mempromosikan kesejahteraan psikologis, sosial, perkembangan emosi dan perilaku dan untuk meningkatkan standar pendidikan.
  • Mengembangkan tes pendidikan
  • Evaluasi program pendidikan. Pengembangan dan pembaharuan kurikulum
  • Konsultasikan sekolah untuk melaksanakan pengajaran dan pengujian perubahan
  • Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan
  • Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif.
  • Penyelenggaraan pendidikan keguruan
  • Mengumpulkan data, merevisi tes dan kegiatan belajar kelas dalam upaya untuk meningkatkan belajar dan mengajar gaya antara mahasiswa, staf pengajar dan individu lainnya. Psikolog Pendidikan harus statistik menyeluruh dan memiliki kemampuan tajam berpikir kritis

 Peran Psikolog Sekolah : 
1.      Mengkomunikasikan hasil evaluasi psikologis untuk orang tua, guru, dan lain-lain sehingga mereka dapat memahami sifat kesulitan siswa dan bagaimana untuk melayani kebutuhan siswa. 
2.    Melakukan penelitian tentang instruksi yang efektif, manajemen perilaku, program-program sekolah alternatif, dan intervensi kesehatan mental. 
3.      Menilai dan mengevaluasi berbagai masalah yang berkaitan sekolah dan aset anak dan remaja di sekolah yang ditugaskan.  
4.      Intervensi langsung dengan siswa dan keluarga melalui konseling individu, kelompok pendukung, dan pelatihan keterampilan.Terlibat dalam pencegahan krisis dan layanan intervensi.
5.       Dapat melayani satu atau beberapa sekolah di daerah sekolah atau bekerja untuk sebuah pusat kesehatan mental masyarakat dan / atau dalam lingkungan universitas.

Peran psikolog sekolah dengan siswa untuk: 
  • Memberikan konseling, pengajaran, dan pendampingan bagi mereka berjuang dengan masalah sosial, emosi, dan perilaku 
  • Meningkatkan prestasi dengan menilai hambatan belajar dan menentukan strategi instruksional terbaik untuk meningkatkan pembelajaran
  • Mempromosikan kesehatan dan ketahanan dengan memperkuat komunikasi dan keterampilan sosial, pemecahan masalah, manajemen kemarahan, self-regulasi, penentuan nasib sendiri, dan optimisme
  • Meningkatkan pemahaman dan penerimaan beragam budaya dan latar belakang
  • Peran psikolog sekolah dengan siswa dan keluarganya untuk: 
  • Konsultasi dengan orang tua untuk membantu dalam memahami pembelajaran dan penyesuaian proses anak-anak. 
  • Mengajarkan keterampilan orangtua, strategi pemecahan masalah, penyalahgunaan zat, dan topik lainnya yang berkaitan dengan sekolah sehat.
  • Mengidentifikasi dan alamat belajar dan masalah perilaku yang mengganggu dengan keberhasilan sekolah
  • Evaluasi kelayakan untuk layanan pendidikan khusus (dalam sebuah tim multidisiplin)
  • Dukungan siswa sosial, emosional, dan perilaku kesehatan
  • Mengasuh, Mengajar,dan meningkatkan kolaborasi rumah-sekolah
  • Membuat arahan dan membantu mengkoordinasikan dukungan layanan komunitas

Peran psikolog sekolah dengan guru untuk:   
  • Konsultasi dengan guru di pembangunan dan implementasi kelas metode dan prosedur dirancang untuk memfasilitasi murid belajar dan untuk mengatasi belajar dan gangguan perilaku.
  • Membantu pendidik dalam melaksanakan suasana yang aman, kelas sehat dan lingkungan sekolah.
  • Mengidentifikasi dan menyelesaikan hambatan akademis untuk belajar
  • Merancang dan mengimplementasikan sistem monitoring kemajuan siswa
  • Desain dan intervensi akademis dan perilaku melaksanakan
  • Mendukung instruksi individual efektif
  • Memotivasi semua siswa untuk terlibat dalam pembelajaran

Peran psikolog sekolah dengan administrators untuk:
  • Konsultasi dengan sekolah administrator tentang sesuai tujuan belajar untuk anak-anak, perencanaan pembangunan dan perbaikan program untuk murid di reguler dan program-program sekolah khusus, dan pengembangan pendidikan eksperimentasi dan evaluasi. 
  • Mengumpulkan dan menganalisa data yang berhubungan dengan perbaikan sekolah, hasil siswa, dan persyaratan akuntabilitas
  • Melaksanakan program-program pencegahan sekolah-lebar yang membantu mempertahankan sekolah positif iklim kondusif untuk belajar
  • Mempromosikan sekolah kebijakan dan praktek yang menjamin keselamatan semua siswa dengan mengurangi kekerasan di sekolah, bullying, dan pelecehan
  • Menanggapi krisis dengan menyediakan kepemimpinan, pelayanan langsung, dan koordinasi dengan pelayanan masyarakat yang dibutuhkan
  • Merancang, melaksanakan, dan mengumpulkan dukungan untuk program sekolah kesehatan jiwa yang menyeluruh.
Peran psikolog sekolah dengan masyarakat untuk: 
  • Konsultasi dengan masyarakat lembaga, seperti masa percobaan departemen, kesehatan mental klinik, dan departemen kesejahteraan, tentang murid yang sedang dilayani oleh masyarakat seperti lembaga.
  • Membantu siswa transisi ke dan dari lingkungan sekolah dan komunitas pembelajaran, seperti perawatan perumahan atau program peradilan anak.

Hal-hal yang Berkaitan dalam Kaitannya dalam Layanan Psikolog sekolah 
PROGRAM INTEGRATIF

Program ini ditujukan untuk sekolah berupa paket lengkap Layanan Konsultansi Psikolog Sekolah berupa program asesmen, konseling, seminar dan pelatihan lengkap untuk siswa, guru dan orangtua selama 2 tahun berturut-turut. Program ini  dapat disesuaikan dengan jenjang sekolah (TK-SD-SMP-SMA) dan jumlah siswa yang ada di tiap sekolah. Pembayaran untuk program ini dapat dilakukan dalam dua termin (setahun sekali). Program Integratif ini terdiri dari Tiga Paket.

[Paket Jenius]
    Terdiri atas layanan:                                                   
·         Psikotes siswa Semi Individual/ Klasikal (2x/2thn)
·         Psikotes siswa Individual (2x/2thn), 
·         Konseling Siswa (8/2thn),
·         Pelatihan Guru (2x/2thn),
·         Konseling Guru (4x/2thn),
·         Seminar Parenting Skills Untuk orangtua (2x/2thn)
·         Pengarsipan Psychological Record siswa dan Guru (1 berkas/org)

 [Paket Superior]
·         Psikotes Semi Individual  (2x/2thn)
·         Psikotes Individual Pemetaan (2x/2thn)
·         Konseling siswa (8x/2thn)
·         Outbound Training untuk siswa (2x/2thn)
·         Psikotes Klasikal Guru (1x/2thn)
·         Konseling Guru (4x/2thn)
·         Team Building dan Pelatihan Guru (1x/2thn)
·         Parenting Skills Untuk orangtua (2x/2thn)
·         Pengarsipan Psychological Record siswa dan Guru (1 berkas/org)

[Paket Gifted]
Paket Bebas Pilih layanan Psikologi selama dua tahun dengan minimal 3 program layanan/ 2 tahun, dengan harga paket yang lebih menguntungkan.


Perbedaan Antara Psikolog Sekolah, Psikolog Pendidikan, dan Guru BK

Psikolog (termasuk psikolog pendidikan) adalah seorang sarjana psikologi yang telah menjalani pendidikan profesi dan berhak membuka praktek, termasuk praktek konseling, namun tidak berkompeten mengeluarkan resep obat. Psikologi mempelajari perilaku manusia secara umum dan terbagi atas enam bidang, yaitu Psikologi Industri & Organisasi, Psikologi Perkembangan, Psikologi Pendidikan, Psikologi Sosial, Psikologi Klinis dan Psikologi Eksperimen.

Sedangkan,

Konselor (guru BK) adalah seseorang yang mempunyai keahlian dalam melakukan konseling. Berlatar belakang pendidikan minimal sarjana strata 1 (S1) dari jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB), Bimbingan Konseling (BK), atau Bimbingan Penyuluhan (BP). Mempunyai organisasi profesi bernama Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN). Melalui proses sertifikasi, asosiasi ini memberikan lisensi bagi para konselor tertentu sebagai tanda bahwa yang bersangkutan berwenang menyelenggarakan konseling dan pelatihan bagi masyarakat umum secara resmi. Konselor bergerak terutama dalam konseling di bidang pendidikan, tetapi juga merambah pada bidang industri dan organisasi, penanganan korban bencana, dan konseling secara umum di masyarakat. Khusus bagi konselor pendidikan yang bertugas dan bertanggungjawab memberikan bimbingan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan (sering disebut Guru BP/BK atau Guru Pembimbing), ia tidak diwajibkan mempunyai sertifikat terlebih dulu.

Sementara,

Psikolog sekolah ada psikolog yang mengkhususkan diri pada dunia sekolah. Biasanya psikolog sekolah berperan dalam pengaturan kelas yang berhubungan dengan psikologis siswa juga guru. Psikolog sekolah juga bisa memberikan penilaian intelegensia guru, inovasi guru, dalam mengajar, dan lain sebagainya.
     Seorang psikolog sekolah harus bisa dekat dengan siswaataupun guru yang secara tidak langsung juga berhubungan dengan orang tua siswa. Karena peran psikolog sekolah juga memantau bagaimana prestasi siswa, kelakuan, dan motivasi siswanya. Tetapi yang perlu diingat psikolog sekolah berbeda dengan guru BK. Guru BK biasanya bertugas pada siswanya saja dan dilindungi oleh undang-undang karena memiliki label guru, sedangkan psikolog sekolah lebih sedikit luas cakupannya dan juga psikolog adalah sebuah profesi yang di wajibkan memiliki profesionalisme lebih baik. Jadi sudah jelas lah psikolog pendidikan dan psikolog sekolah memiliki peran yang berbeda namun mungkin memiliki tujuan yang sama yaitu agar dunia pendidikan semakin baik. 


Sumber:

Friday, March 30, 2012

Pendidikan Anak Prasekolah. Seberapa penting?

Kelompok 1 :




   Pada masa sekarang ini, sebagian besar orangtua telah merencanakan pendidikan untuk anaknya sedini mungkin. Menyekolahkan anak mulai TK mungkin sudah dianggap kurang memperhatikan anak. Beberapa anak bahkan telah mengenal nursery (pra play group), dan sebagian besar lainnya sekolah mulai play group. Tetapi seringkali muncul pertanyaan dikalangan masyarakat, apa manfaat pendidikan pra sekolah tersebut?

   Pendidikan pra sekolah seperti Play Group/ Taman Kanak-kanak (PG/TK)  adalah untuk membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.

   Anak-anak pada sekitar umur 3 atau 4 tahun merupakan massa permulan terbukanya jiwa anak-anak untuk menerima pengaruh dari luar melalui panca inderanya secara luar biasa. Anak-anak sangat tertarik kepada gambar-gambar teristimewa yang berwarna, lagu-lagu dan suara pada umumnya, cerita-cerita tentang apapun juga. Massa ini dinamakan “gevoelige periode” oleh Montessori. Di sinilah letak pentingnya pendidikan pra sekolah. Di lingkungan pra sekolah, otak anak distimulasi untuk siap belajar di jenjang selanjutnya, kemandirian mereka dilatih dalam format bermain yang terarah.

    Manfaat pendidikan pra sekolah adalah untuk mendidik anak untuk belajar berbagai hal sesuai dengan usia dan kemampuan perkembangan otaknya. Mereka juga dilatih untuk mempersiapkan diri memasuki masa sekolah. Misalnya, anak diperkenalkan dengan alat tulis dan cara menggunakannya. Dengan demikian, ketika sudah duduk di sekolah dasar, ia sudah mengerti cara memegang alat tulis dan menulis dasar. 

   Biasanya anak yang mendapatkan pendidikan prasekolah lebih siap melanjutkan proses belajarnya.
Pendidikan prasekolah selain mendidik anak sambil bermain, umumnya juga berfokus pada pengembangan kemandirian, kedisiplinan, dan yang paling penting adalah kehidupan sosial pada anak. Manfaatnya adalah mengajarkan bagaimana hidup bermasyarakat sambil bermain bersama teman-teman lainnya.

   Meskipun orangtua telah merencanakan pendidikan prasekolah untuk anaknya, sebaiknya orang tua ikut juga mendidik anaknya. Pada usia yang masih belia anak perlu banyak perhatian dan kasih sayang. Orang tua juga contoh yang paling nyata bagi anak. Oleh karena itu keikutsertaan orang tua dalam mendidik anak justru faktor yang paling utama dalam menentukan perkembangan anak.

   Menurut Snowman (1993 dalam Patmonodewo, 2003) mengemukakan ciri-ciri anak prasekolah (3-6 tahun) yang biasanya adalah anak  TK. Ciri-ciri yang dikemukakan meliputi aspek fisik, sosial, emosi dan kognitif anak.
1)      Ciri Fisik Anak Prasekolah Atau TK.
Penampilan maupun gerak gerik prasekolah mudah dibedakan dengan anak yang berada dalam tahapan sebelumnya.
a. Anak prasekolah umumnya aktif. Mereka telah memiliki penguasaan atau kontrol terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang dilakukan sendiri.
b. Setelah anak melakukan berbagai kegiatan, anak membutuhkan istirahat yang cukup, seringkali anak tidak menyadari bahwa mereka harus beristirahat cukup. Jadwal aktivitas yang tenang diperlukan anak.
c. Otot-otot besar pada anak prasekolah lebih berkembang dari kontrol terhadap jari dan tangan. Oleh karena itu biasanya anak belum terampil, belum bisa melakukan kegiatan yang rumit seperti misalnya, mengikat tali sepatu.
d. Anak masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada obyek-obyek yang kecil ukurannya, itulah sebabnya koordinasi tangan masih kurang sempurna.
e. Walaupun tubuh anak lentur, tetapi tengkorak kepala yang melindungi otak masih lunak (soft). Hendaknya berhati-hati bila anak berkelahi dengan teman-temannya, sebaiknya dilerai dan dijelaskan kepada anak-anak mengenai penyelesaian masalahnya.
f. Walaupun anak lelaki lebih besar, anak perempuan lebih terampil dalam tugas yang bersifat praktis, khususnya dalam tugas motorik halus, tetapi sebaiknya jangan mengkritik anak lelaki apabila ia tidak terampil, jauhkan dari sikap membandingkan anak lelaki-perempuan, juga dalam kompetisi ketrampilan seperti apa yang disebut diatas.
2) Ciri Sosial Anak Prasekolah atau TK  
a. Umumnya anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini cepat berganti, mereka umumnya dapat cepat menyesuaikan diri secara sosial, mereka mau bermain dengan teman. Sahabat yang dipilih biasanya yang sama jenis kelaminnya, tetapi kemudian berkembang sahabat dari jenis kelamin yang berbeda.
b. Kelompok bermain cenderung kecil dan tidak terorganisasi secara baik, oleh karena kelompok tersebut cepat berganti-ganti.
c. Anak lebih mudah seringkali bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar. Parten (1932) dalam social participation among praschool children melalui pengamatannya terhadap anak yang bermain bebas di sekolah, dapat membedakan beberapa tingkah laku sosial:
a) Tingkah laku unoccupied: anak tidak bermain dengan sesungguhnya. Ia mungkin berdiri di sekitar anak lain dan memandang temannya tanpa melakukan kegiatan apapun.
b) Bermain soliter: anak bermain sendiri dengan menggunakan alat permainan, berbeda dari apa yang dimainkan oleh teman yang berada di dekatnya, mereka berusaha untuk tidak saling berbicara.
c) Tingkah laku onlooker: anak menghasilkan tingkah laku dengan mengamati. Kadang memberi komentar tentang apa yang dimainkan anak lain, tetapi tidak berusaha untuk bermain bersama.
d) Bermain pararel: anak-anak bermain dengan saling berdekatan, tetapi tidak sepenuhnya bermain bersama dengan anak lain, mereka menggunakan alat mainan yang sama, berdekatan tetapi dengan cara tidak saling bergantung.
e) Bermain asosiatif: anak bermain dengan anak lain tanpa organisasi. Tidak ada peran tertentu, masing-masing anak bermain dengan caranya sendiri-sendiri.
f) Bermain kooperatif: anak bermain dalam kelompok di mana ada organisasi. Ada pemimpinannya, masing-masing anak melakukan kegiatan bermain dalam kegiatan, misalnya main toko-tokoan, atau perang-perangan.
3) Ciri Emosional Pada Anak Prasekolah atau TK.

a. Anak TK cenderung mengekspreseikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut.

b. Iri hati pada anak prasekolah sering terjadi, mereka seringkali memperebutkan perhatian guru.

c. takut disebabkan pembiasaan, peniruan, dan ingatan tentang pengalaman kurang menyenangkan yang ada mulanya reaksi adalah panik kemudian menjadi lebih khusus seperti lari, menangis, dan bersembunyi.

d. gembira diekspresikan dengan tersenyum dan tertawa, bertepuk tangan, melompat-lompat, dan memeluk benda atau orang yang membuatnya bahagia.

e. cemburu sering disebabkan karena mengira bahwa minat dan perhatian teralih darinya. Anak yang lebih muda dapat menunjukkan secara terbuka atau menunjukkannya dengan kembali berperilaku seperti anak kecil.

f. sedih terjadi pada anak-anak karena mereka kehilangan sesuatu yang dicintai atau yang dianggap penting bagi dirinya.

g. ingin tahu terjadi pada anak-anak ketika mereka menemukan sesuatu yang baru pertama kali dilihat, baik itu berada pada tubuhnya sendiri atau pada tubuh orang lain.

h. kasih sayang diberikan anak-anak kepada orang lain, binatang, atau benda yang menyenangkan. Ketika masih kecil mereka mengungkapkannya dengan cara memeluk, menepuk, dan mencium objek tersebut, tetapi ketika sudah besar mereka akan mengungkapkannya.  

4) Ciri Kognitif Anak Prasekolah atau TK 

a. Anak prasekolah umumnya terampil dalam berbahasa. Sebagian dari mereka senang berbicara, khususnya dalam kelompoknya, sebaiknya anak diberi kesempatan untuk berbicara, sebagian dari mereka dilatih untuk menjadi pendengar yang baik.

b. Kompetensi anak perlu dikembangkan melalui interaksi, minat, kesempatan, mengagumi dan kasih sayang. Ainsworth dan Wittig (1972) serta Shite dan Wittig (1973) menjelaskan cara mengembangkan agar anak dapat berkembang menjadi kompeten dengan cara sebagai berikut:

        a) Lakukan interaksi sesering mungkin dan bervariasi dengan anak.

        b) Tunjukkan minat terhadap apa yang dilakukan dan dikatakan anak.

      c) Berikan kesempatan kepada anak untuk meneliti dan mendapatkan kesempatan dalam banyak hal.

       d) Berikan kesempatan dan dorongan maka untuk melakukan berbagai kegiatan secara mandiri.

        e) Doronglah anak agar mau mencoba mendapatkan ketrampilan dalam berbagai tingkah laku.

        f) Tentukan batas-batas tingkah laku yang diperbolehkan oleh lingkungannya.

        g) Kagumilah apa yang dilakukan anak.

      h) Sebaiknya apabila berkomunikasi dengan anak, lakukan dengan hangat dan dengan ketulusan hati. 



Sumber :

1. Harlock, E.B. 1980. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Ed 5. Jakarta : Erlangga
2. Uraeka.com 
3. Santrock, J.W. 2002. Life Span Development : Perkembangan Masa Hidup. Ed 5. Jakarta : Erlangga
4. Papalia, D.E. 2003. Child Development : A Topical Approach . New York : McGraw-Hill

Refleksi Hasil Bentukan Belajar. Contoh Kasus Cognition, Language, and Inteligence


   Untuk contoh kasus refleksi hasil bentukan belajar dari pembahasan mengenai cognition, language, and inteligence, saya mengambil dari kejadian yang terjadi hampir setahun yang lalu. Yaitu saat saya masih kelas 3 SMA dan bersiap-siap untuk menuju universitas. Saat itu kebetulan saya mendapat kesempatan untuk mengirim data melalui jalur snmptn undangan.
 
   Dalam pembahasan pada sub topik Generating and Evaluating Alternative Solutions, ada 3 cara dalam penyelesaian masalah. Yaitu dengan  trial and error, algorithms, dan heuristics.

   Saat itu harapan saya adalah menjadi mahasiswi di Fakultas Psikologi UI. Sebenarnya yang lebih dalam lagi adalah, saya sangat ingin menjadi mahasiswi UI, sekalipun bukan Fakultas impian saya yang akan saya jalani.

   Dalam memasukkan pilihan universitas tujuan pada format snmptn undangan, saya dapat mengisi 2 universitas dengan masing-masing 3 pilihan program studi.

   Saya menggunakan metode heuristics dalam memasukkan pilihan saya. Karena memang impian, maka saya memasukkan Fakultas Psikologi sebagai pilihan pertama program studi di pilihan universitas saya yang pertama yaitu Universitas Indonesia.

   Selain karena memang sebuah impian tersebut, berdasarkan pengalaman senior tahun-tahun sebelumnya dan passing grade yang ada, saya memasukkan pilihan kedua dan ketiga program studi di Universitas Indonesia dengan pilihan yang passing grade-nya lebih rendah dari Fakultas Psikologi. Harapan saya,  walaupun tidak lulus di Fakultas Psikologi, saya tetap dapat menjadi mahasiswi di Universitas Indonesia.

   Lalu kemudian, pada pilihan universitas yang kedua, saya memasukkan pilihan Universitas Sumatera Utara dengan Program Studi Fakultas Psikologi. Awalnya saya tidak terlalu minat untuk memasukkan pilihan lain karena bukan impian saya, namun orang tua saya menyarankan memasukkan pilihan program sudi yang kedua sebagai cadangan. Jadi, saya buat pilihan pogram studi yang kedua di pilihan universitas yang kedua tersebut dengan pilihan yang passing grade-nya lebih rendah dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

   Lalu, hasil dari metode heuristics tersebut akhirnya keluar. Keberhasilan dalam pemakaian metode heuristics memang tidak selalu begitu akurat. Begitu juga dalam kasus saya. Saya tidak lulus di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia maupun program studi lainnya di Universitas Indonesia. Namun, saya lulus di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

   Awalnya saya merasa sangat berduka. Namun sekarang, setelah menjalani hari-hari menjadi mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara, Alhamdulillah, saya tidak menyesal sama sekali walau kadang teringat juga impian yang dulu. Mungkin menurut Allah ini yang terbaik untuk saya, dan saya sangat setuju. Jangan-jangan, metode heurstics dapat memberi hasil yang memang kita butuhkan dan bukan kita inginkan? :)